Trump Mau Jadi Juru Selamat AS, Bagaimana Reaksi Pasar?

Ilustrasi Resesi Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, – Hawa resesi memang sangat terasa menggelayuti perekonomian RI setelah angka keramat berupa pertumbuhan PDB pekan kemarin. Nilai tukar rupiah dan IHSG kompak melemah. Hanya obligasi rupiah pemerintah saja yang mengalami kenaikan harga. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan output perekonomian Tanah Air mengalami kontraksi sebesar -5,32% (yoy). Jauh lebih rendah dari konsensus yang dihimpun oleh  Indonesia di -4,53% (yoy).

Baca:

Ekonomi AS Bangkit & CAD RI Membaik, Akankah IHSG Ceria?

Rilis angka keramat ini seolah semakin mengukuhkan jika ekonomi RI memang berada di ambang resesi. Aset-aset keuangan dalam negeri pun mulai dilepas oleh investor.

Mulai dari saham, IHSG terperosok 0,11% sepekan lalu. Kendati tak terlalu signifikan, tetapi investor asing masih melepas kepemilikannya terhadap aset ekuitas dalam negeri. Hal ini terbukti dari nilai jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp 3,3 triliun seminggu terakhir. 

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memang masih jadi ancaman terbesar bagi perekonomian dan pasar keuangan domestik. Namun di sisi lain dengan berpartisipasinya Bio Farma dalam perlombaan pengembangan vaksin virus corona membuat saham-saham emiten farmasi pelat merah bergerak liar. 

Baca:

Harga Minyak Turun, Laba Saudi Aramco Anjlok 73,4% di Q2-2020

Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indo Farma Tbk (INAF) meroket lebih dari 30% minggu kemarin. Rencana Bio Farma untuk menggaet kedua perusahaan BUMN ini telah membuat harga sahamnya meroket. 

Secara year to date, kedua saham tersebut bahkan sudah mengalami kenaikan harga hingga lebih dari 100%. Lonjakan harga saham yang signifikan ini akhirnya membuat otoritas bursa menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham dua emiten farmasi yang tengah ‘naik daun’ itu. 

Beralih ke nilai tukar rupiah, nasib mata uang RI ini jauh lebih apes dari IHSG. Dalam sepekan nilai tukar rupiah melemah 0,34% terhadap dolar AS. Rupiah kini dibanderol di Rp 14.580/US$ pada penutupan pasar spot Jumat (7/7/2020).

Koreksi tersebut membuat rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Benua Kuning yang kemudian disusul oleh dolar Taiwan yang melemah 0,29% di hadapan dolar greenback.

Kinerja rupiah yang buruk tak terlepas dari sentimen negatif dan outlook perekonomian RI yang tertekan hebat akibat pandemi. Hasil survei terbaru dari Reuters menunjukkan sentimen pelaku pasar masih belum bagus terhadap rupiah. 

Lebih sedih lagi, hanya rupiah yang masih “dibuang” pelaku pasar dibandingkan mata uang Asia lainnya. Survei 2 mingguan yang dilakukan Reuters yang menunjukkan investor masih mengambil posisi jual (short) rupiah.

Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar AS dan jual (short) terhadap rupiah, begitu juga sebaliknya.

Hasil survei yang dirilis pada Kamis (6/8/2020), menunjukkan angka 0,45 turun dibandingkan hasil survei sebelumnya 0,61. Artinya investor mengurangi posisi jual (short) rupiah, setelah mengalami kenaikan dalam 2 survei sebelumnya.

Pada akhirnya kenaikan cadangan devisa ke level tertinggi sepanjang masa di US$ 135 miliar akibat penerbitan Samurai Bond, hingga surplus neraca dagang pada Mei dan Juni pun tak mampu membuat rupiah bergairah.

Berbeda dengan rupiah dan IHSG, harga obligasi Indonesia justru mencatatkan penguatan tipis. Hal ini tercermin dari penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 3,8 basis poin (bps) menjadi 6,787%.

Sebenarnya tanda-tanda perbaikan ekonomi RI mulai terlihat dari berbagai indikator. Paling baru adalah penjualan motor. Di akhir kuartal kedua, AISI mencatatkan kenaikan penjualan kendaraan roda dua sebesar 669% (mom).

Meski secara tahunan masih ada penurunan 80% tetapi kenaikan penjualan ini tetap mencerminkan roda ekonomi yang mulai berputar kembali. Hal yang sama juga dialami oleh pasar kendaraan roda empat. GAIKINDO melaporkan penjualan mobil penumpang mengalami kenaikan sebesar 244% (mom).

Hanya saja membaiknya aktivitas ekonomi RI juga harus dibarengi dengan lonjakan kasus infeksi baru Covid-19 yang agaknya mulai terbiasa di atas 2.000 kasus per hari. Lonjakan kasus baru yang signifikan juga tercatat di ibu kota. 

Tentu saja ini jadi sentimen negatif di pasar keuangan dan membuat risk appetite investor kembali menurun. Pasalnya jika kasus tak kunjung mereda maka prospek perekonomian RI ke depan juga masih berpotensi tertekan.