Users Telegram Nambah 25 Juta Dalam 72 Jam, Gegera WhatsApp?

REFILE - CLARIFYING CAPTION Silhouettes of mobile users are seen next to a screen projection of Telegram logo in this picture illustration taken March 28, 2018.  REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, – Telegram kini sudah punya 500 juta pengguna aktif. Ini karena dalam 72 jam terakhir terjadi instalasi Telegram sebanyak 25 juta pengguna.

Hal ini diumumkan langsung Telegram dalam aplikasinya seperti dikutip Rabu (13/1/2021). Bandingkan dengan 2020 lalu di mana penambahan pengguna baru Telegram mencapai 1,5 juta per hari. Penambahan ini cukup signifikan.

Pilihan Redaksi
  • Benarkah WhatsApp Mulai Ditinggal Pengguna?
  • Kebijakan Privasi Baru WhatsApp, Wajarkah?
  • Penjelasan WhatsApp Soal Kebijakan Privasi Baru, Simak!

Dalam postingannya, pendiri Telegram Pavel Durov mengaatkan sebanyak 38% pengguna baru datang dari AS, 27% dari Eropa, 21% dari Amerika Latin dan 8% dari Timur Tengah.

“Orang tidak lagi ingin menukar privasi mereka dengan layanan gratis. Mereka tidak ingin lagi disandera oleh monopoli teknologi yang tampaknya berpikir bahwa mereka dapat melakukan apa saja selama aplikasi mereka memiliki pengguna banyak,” tulis Pavel Durov

“Dengan setengah miliar pengguna aktif dan pertumbuhan yang semakin cepat, Telegram telah menjadi tempat perlindungan terbesar bagi mereka yang mencari platform komunikasi yang berkomitmen pada privasi dan keamanan. Kami mengambil tanggung jawab ini dengan sangat serius. Kami tidak akan mengecewakan Anda.”

Kenaikan pengguna Telegram yang signifikan ini diduga karena heboh kebijakan privasi baru WhatsApp. Dalam aturan tersebut pengguna diminta menyetujui adanya bagi data antara WhatsApp dengan Facebook.

Kebijakan ini mulai berlaku pada 8 Februari 2021. Data yang diambil ada data umum pengguna. WhatsApp kemudian mengklarifikasi kebijakan privasi baru ini berlaku ketika pengguna WhatsApp berinteraksi dengan bisnis dan menggunakan hosting Facebook.

Hal lainnya karena dimatikannya aplikasi berbagai pesan Parler. Aplikasi ini dimatikan karena digunakan oleh pendukung Presiden Donald Trump dalam melakukan aksi pengepungan gedung Parlemen AS untuk membatalkan pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan Presiden.

[Gambas:Video ]

(roy/roy)