Warga Desa Myanmar Naik Darah, Junta Diserbu sampai ke Hutan

Anti-coup protesters run to avoid military forces during a demonstration in Yangon, Myanmar, Wednesday March 31, 2021. The Southeast Asian nation has been wracked by violence since the military ousted a civilian-led government on Feb. 1 and began to forcibly put down protests. (AP Photo)

Jakarta, – Situasi Myanmar pasca kudeta kian memanas. Masyarakat pro-demokrasi di desa-desa negeri itu, kini membalas aksi junta militer dengan menggunakan senjata buatan.

Dilansir dari salah satu media lokal, The Irrawaddy, penduduk desa bahkan melakukan tindakan defensif terhadap hampir 100 tentara militer yang mendekati sebuah desa di Kotapraja Yinmabin dan Kotapraja Kani. Ini terjadi sore akhir pekan lalu.

Pilihan Redaksi
  • Xi Jinping-Putin Tolak Sanksi Junta Myanmar, Why China-Rusia?
  • Makin Ngeri! Junta Militer Kini Buru Kritikus Online Myanmar
  • 5 Orang Tewas Saat Junta Myanmar Menindak Kritik di Online

Ratusan penduduk dari 13 desa di wilayah itu, bersatu karena pergerakan junta yang hendak menangkap sejumlah penduduk dan biksu yang memimpin protes anti rezim. Menurut warga juta sudah tidak mengindahkan hukum.

Penduduk desa menggunakan senjata api kunci perkusi dan senjata tekanan gas buatan sendiri yang menembakkan dapat kaca atau bola baja. Mereka menghadapi pasukan militer menggunakan peluru tajam.

“Kita harus melawan mereka, jika tidak, generasi kita akan menghadapi situasi yang lebih buruk dari kita. Mereka tidak memiliki hukum,” kata seorang penduduk desa Thapyayaye, dikutip Senin (5/4/2021).

“Kami tidak tahu persis bagaimana memutuskan untuk maju. Kami belum pernah melihat bentrokan seperti itu antara pasukan militer dan penduduk desa sebelumnya,” kata penduduk desa Thapyayaye lainnya.

Hal ini, kata warga, akhirnya membuat militer mundur ke dalam hutan. Dilaporkan pula, banyak warga lanjut usia dan anak-anak yang mengungsi.

Penduduk desa dilaporkan akan melakukan serangan terhadap pasukan junta militer di desa terdekat lain mulai, Senin ini. Belum ada konfirmasi lain dari sisi junta militer Myanmar terkait perkembangan ini.

Pasca dimulainya kudeta pada 1 Februari, junta militer seringkali menggunakan peluru tajam, granat tangan dan bahan peledak saat membubarkan unjuk rasa pro-demokrasi yang berlangsung damai. Ini, sebagaimana dilaporkan lembaga pemantau tahanan politik AAPP, menimbulkan lebih dari 500 orang tewas.

Sejumlah negara telah memberikan sanksi termasuk ekonomi namun tampaknya belum mampu menghentikan kekerasan. Perwakilan PBB untuk Myanmar sempat meminta Dewan Keamanan (DK) bergerak, namun belum ada sanksi tegas lain dari kelompok tersebut.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)