WHO Minta Obat Gilead Remdesivir Tak Dipakai Lagi Buat Corona

Gilead Sciences headquarters are seen on Thursday, April 30, 2020, in Foster City, Calif. White House health advisor Dr. Anthony Fauci said Wednesday, April 29 that data from a coronavirus drug trial testing Gilead Sciences' antiviral drug remdesivir showed

Jakarta, –¬†Panel Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta dokter tidak menggunakan obat antiviral remdesivir dari Gilead Science untuk pengobatan pasien corona (Covid-19) di rumah sakit.

Kelompok Pengembangan Panduan (GDG) WHO mengatakan tak ada bukti obat itu membantu, baik meningkatkan kelangsungan hidup atau mempersingkat pemulihan. Hal ini kontras dengan pedoman FDA AS.

Baca:

Jadi, Biden Bakal Lockdown AS?

Kelompok itu mengatakan rekomendasi ini berdasar perbandingan efek dari beberapa perawatan. Termasuk data dari empat uji coba acak internasional yang melibatkan 7.000 pasien.

“Setelah meninjau bukti ini secara menyeluruh, panel ahli GDG WHO yang mencakup para ahli dari seluruh dunia termasuk empat pasien yang pernah terinfeksi Covid-19, menyimpulkan bahwa remdesivir tidak memiliki efek yang berarti pada kematian atau pada hasil penting lainnya untuk pasien. Seperti kebutuhan ventilasi mekanis atau waktu untuk perbaikan klinis, “tulis kelompok itu dalam siaran pers dikutip dari International, Jumat (20/11/2020).

Baca:

Australia Lockdown Ketat Negara Bagian, Strain Inggris Nyebar

Rekomendasi terbaru ini diterbitkan di jurnal perdagangan medis Inggris The BMJ.

Sementara itu, Gilead mengatakan remdesivir diakui sebagai standar perawatan untuk perawatan pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 oleh banyak lembaga kredibel. Termasuk Lembaga Kesehatan dan Penyakit Menular Nasional (NIH) AS, Jepang, Inggris dan Jerman.

“Kami kecewa pedoman WHO tampaknya mengabaikan bukti ini pada saat kasus meningkat secara dramatis di seluruh dunia dan dokter mengandalkan Veklury (merk dagang Remdesivir) sebagai pengobatan antivirus pertama dan satu-satunya yang disetujui untuk pasien dengan Covid-19 di sekitar 50 negara,” kata juru bicara Gilead Chris Ridley.

Obat ini sebelumnya dipakai Presiden AS Donald Trump saat dinyatakan positif corona September lalu. Obat itu mendapat perhatian dunia sebagai pengobatan yang berpotensi efektif untuk virus korona pada awal tahun setelah sebuah penelitian yang didanai oleh National Institutes of Health menemukan bahwa obat itu sedikit mengurangi waktu pemulihan pada beberapa pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)