Wow! Ini Dia Deretan Mega Merger 5 Tahun Terakhir di RI

Cover/ 3 Bank Syariah Merger/Aristya Rahadian

Jakarta, – Sepanjang tahun ini, sudah dua peristiwa terkait dengan rencana penggabungan (merger) perusahaan publik di Tanah Air ramai diberitakan dan menjadi sentimen perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Merger merupakan salah satu bentuk aksi korporasi yang merujuk pada konsolidasi perusahaan atau aset dalam satu entitas tertentu dengan meleburkan dengan entitas lainnya.

Rencana merger perusahaan paling ramai sepekan terakhir adalah tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) yang merupakan anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang akan dimergerkan dengan PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Mandiri Syariah (BSM).

 Indonesia merangkum rencana merger yang akan terjadi di pasar saham RI, dan beberapa merger yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

1. Grup Barito Pacific

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan PT Styrindo Mono Indonesia (SMI)

TPIA akan melakukan merger dengan Styrindo yang sahamnya juga dipegang 100% oleh perseroan.

Berdasarkan prospektus perusahaan di BEI, Chandra Asri akan menjadi perusahaan penerima alias survivor entity dan tetap menjadi perusahaan terbuka dengan kode saham TPIA.

Perusahaan yang bergabung yakni SMI berkedudukan di Jakarta Barat, didirikan dengan status sebagai perusahaan penanaman modal asing berdasarkan Akta Nomor 388 tanggal 23 Juni 1990.

Berdasarkan Anggaran Dasar SMI, perseroan fokus berusaha dalam bidang industri pengolahan dan perdagangan besar.

Nantinya setelah merger, pemegang saham TPIA yakni Barito Pacific 41,88%, SCG Chemicals 30,57%, Prajogo 15,07%, Marigold Resources 4,75% dan publik 7,73%. Sebelumnya Chandra Asri juga adalah hasil gabungan dengan PT Trypolita Indonesia Tbk.

2. Bank Syariah BUMN

BRISyariah, dengan PT Bank Mandiri Syariah dan PT Bank BNI Syariah

Dengan adanya penggabungan maka aset dari ketiga bank syariah tersebut bisa melesat. Untuk diketahui, per Agustus 2020, Bank Syariah Mandiri mencatatkan aset Rp 112,1 triliun, BNI Syariah Rp 49,97 triliun, dan BRI Syariah Rp 51,8 triliun.

Ketua Tim Project Management Office (PMO) yang juga Plt Dirut PT Bank mandiri Tbk (BMRI) Hery Gunardi mengatakan dengan penggabungan itu, akan menciptakan bank syariah dengan aset mencapai Rp 390 triliun, kemudian target pembiayaan bisa menembus Rp272 triliun, dan pendanaan sekitar Rp335 triliun.

“Tentunya bank hasil gabungan ini punya modal cukup untuk meningkatkan kapasitas sehingga bisa generate bisnis secara kuat, underwrite bisnis lebih baik dan lebih besar dan improve, [masuk ke] global market di middle east dan buat sukuk global,” kata Hery dalam konferensi pers virtual, di Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Hery menjelaskan dengan penggabungan ini bank tersebut bisa masuk 10 bank berdasarkan kapitalisasi pasar.

“Kalau selesai legal merger Q1 2021 memiliki aset Rp 220-225 triliun tentunya akan menempati nomor 7-8 perbankan top 10 di Indonesia jadi bagus dan besar,” jelasnya.

Dia mengatakan alasan merger ini karena pemerintah melalui Kementerian BUMN ingin ada bank syariah terbesar guna mengakomodasi pasar yang begitu besar dengan jumlah penduduk Muslim terbesar.

Baca:

Top! Miniso IPO di Wall Street, Bosnya Jadi Crazy Rich Dunia

3. Grup BCA

PT Bank BCA Syariah dengan Bank Interim (Rabobank Indonesia)

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berencana melakukan merger entitas anak, BCA Syariah dengan Bank Rabobank International Indonesia yang sudah diakuisisi sebelumnya. Bank tersebut kini bernama Bank Interim Indonesia.

Dalam rangka merger ini, Bank BCA Syariah mengumumkan rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split).

Sebelumnya, induk usaha BCA Syariah, Bank Central Asia menyelesaikan akuisisi Bank Interim dari Coöperatieve Rabobank U.A. (CRUA). Pengalihan saham Bank Interim dilakukan pada tanggal 25 September 2020 setelah persetujuan penyertaan modal, akuisisi serta kemampuan dan kepatutan (fit and proper) diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia.

“Dengan demikian BCA resmi memiliki 99,999973% saham Bank Interim dan PT BCA Finance, anak perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki secara langsung dan tidak langsung oleh BCA, memiliki 0,000027% saham. Total nilai akuisisi adalah Rp 643,65 miliar,” tulis keterangan yang diperoleh , Selasa (29/9/2020).

Deretan Mega Merger 5 Tahun Terakhir

1. PT Bank Woori Saudara dengan PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk

Pada 23 Januari 2015, PT Bank Woori Indonesia melakukan merger dengan PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk, dan mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp 100,87 miliar atau tumbuh 63% (year on year) per Maret 2015.

Penggabungan entitas juga menyebabkan struktur pemilikan berubah. Sebelumnya, Bank Woori Indonesia dan induknya, Woori Bank Korea telah mengakuisisi 33% saham Bank Saudara.

Alhasil, setelah merger komposisi saham mayoritas dipegang oleh Woori Bank Korea sebesar 74,02%. Sementara itu, Arifin Panigoro memiliki saham sebesar 12,40%.

2. PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ) dengan PT Bogor Medical Center

Pada 29 Juni 2018, PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ) atau Mayapada Hospital melakukan merger dengan PT Bogor Medical Center. Proses merger ini membuat Harga saham SRAJ pada perdagangan Selasa (13/03/2018) melonjak 28,72% menjadi Rp 242 per saham.

Baca:

Merger 3 Bank Syariah BUMN, S&P: Bank Mandiri Bakal Dominan!

3. PT Bank Agris Tbk (AGRS), PT Bank Mitra Niaga Tbk (NAGA)

Pada 15 Januari 2019, dan Industrial Bank of Korea (IBK) resmi menjadi pemegang saham pengendali AGRS dengan membeli 95,79% atau setara 5,03 miliar dengan harga pembelian Rp 288/saham, sehingga total transaksi akuisisi mencapai Rp 1,14 triliun.

Lalu, pada akhir Januari 2019, IBK juga merampungkan transaksi pembelian atas 1,17 miliar saham NAGA dengan harga pembelian 409/saham. Ini berarti total transaksi senilai Rp 478,53 miliar.

NAGA kemudian dilebur ke dalam AGRS dengan nama barunya yakni PT Bank IBK Indonesia Tbk dan rampung pada 31 Juli 2019.

4. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sumitomo Mistui Indonesia (SMBCI).

Bank terbesar kedua di Jepang, SMBC, resmi memegang kepemilikan atas 97,34% saham BTPN atau setara 7,93 miliar unit saham pada akhir Januari 2019.

Pengambil alihan tersebut tercatat seiring dengan transaksi penambahan saham sebanyak 3,33 miliar unit atau sekitar 56,98% pada harga Rp 4.282/saham yang dilaksanakan pada 31 Januari 2019. Ini berarti total dana yang dikeluarkan SMBC membeli BTPN mencapai Rp 14,26 triliun.

Kemudian, BTPN dilebur bersama PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI). Bank baru hasil merger ini akan menghapus nama Bank Tabungan Pensiunan Nasional menjadi PT Bank BTPN Tbk. Setelah penggabungan, total aset BTPN mencapai Rp 189,92 triliun saat itu. 

5. PT Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP) dan PT Mitsubishi UFJ Financial Group Bank (MUFG)

Bank terbesar asal Jepang, MUFG, resmi menguasai 94,1% atau setara 9,2 miliar unit saham BDMN pada 29 April 2019.

Total transaksi yang tercatat mencapai Rp 52,58 triliun, di mana ini termasuk nilai transaksi penggabungan BDMN dengan PT Bank Nasional Parahyangan Tbk (BBNP).

Sebelumnya, pada 1 Mei 2019, BDMN dan BBNP telah resmi melakukan penggabungan usaha, BDMN menjadi surviving entity atau entitas yang dipertahankan.

6. PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR), PT Bank Oke Indonesia (BOI)

DNAR resmi mencatatkan penggabungan usaha dengan BOI pada 15 Juli 2019 setelah akhirnya mendapat persetujuan dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Kedua bank ini sama-sama dipegang oleh investor Korea, APRO Financial Co. Ltd (APRO)

Sama halnya dengan BDMN, DNAR adalah entitas yang dipertahankan setelah penggabungan usaha. Namun akan dilakukan rebranding nama bank menjadi PT Bank Oke Indonesia Tbk, mengingat “OK Bank” sudah menjadi brand image dari APRO. DNAR sebelumnya sudah diakuisisi oleh investor APRO.

TIM RISET

Baca:

Bakal Diumumkan Besok, Ini Skema Merger Bank Syariah BUMN

[Gambas:Video ]

(chd/chd)