50 Tahun Tempo: Menjaga Integritas dan Membangun Kedekatan dengan Narasumber

, Jakarta – Pemimpin Redaksi Majalah Tempo periode 2010-2013, Wahyu Muryadi, menceritakan pengalamannya saat menjadi pemred tentang bagaimana menjaga hubungan dengan narasumber selama acara 50 Tahun Tempo.

Wahyu Muryadi menceritakan bagaimana banyak narasumber yang marah karena merasa dirugikan dengan pemberitaan Tempo. “Mereka (narasumber) mempertanyakan juga sejauh mana Tempo mendapat informasi itu,” kata Wahyu, 6 Maret 2021.

Wahyu mengingat kembali pemberitaan Tempo edisi 28 Juni 2010 tentang rekening gendut perwira Polri membuat gempar. “Saat itu banyak perwira polisi yang bertanya meminta sumber informasi dan dokumen itu,” papar Wahyu.

Namun Wahyu menegaskan Tempo menolak mengungkap identitas narasumber sebab itu menjadi bagian integritas Tempo untuk menjaga narasumber.

“Perihal benci dengan pemberitaan Tempo itu biasa,” kata Wahyu, “tetapi selalu ada mekanisme komunikasi dengan narasumber yang merasa dirugikan agar memahami pemberitaan Tempo.”

Menurut Wahyu banyak juga narasumber yang akhirnya dekat setelah dijelaskan tentang pemberitaan Tempo. Ia mengatakan prinsip jurnalisme bukan untuk menimbulkan kebencian tetapi juga membangun rasa saling pengertian.

Baca juga: 50 Tahun Tempo: Merawat Indonesia di Era Pasca-Kebenaran

“Itu yang selalu kami jelaskan bahwa tidak ada namanya membunuh karakter, nothing personal, ini urusannya pada langkah atau kebijakan yang kami rasakan keliru. Di situ kami sampaikan dan sampai mereka akhirnya paham,” kata Wahyu Muryadi pada acara 50 Tahun Tempo.