Begini Jaktim Sulap Parkir Liar Kolong Tol Becakayu Jadi Ruang Publik

Pesepeda melakukan lompatan saat melakukan uji coba lokasi pembangunan trek sepeda di kolong Tol Becakayu, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Rabu, 21 Oktober 2020.  Pembangunan trek sepeda dan Ruang Terbuka Hijau tersebut merupakan gerakan inisiatif warga Kelurahan Cipinang Melayu. ANTARA/Muhammad Adimaja

, Jakarta -Pemerintah Kota Jakarta Timur mengubah lahan parkir liar kendaraan di kolong Tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (Tol Becakayu), Kecamatan Makasar, menjadi ruang publik.

“Kolong Tol Becakayu di Cipinang Melayu ada di RW01, RW02, RW03, RW04, dan RW06 memiliki  total panjangnya  4 sampai 5 kilometer,” kata Lurah Cipinang Melayu Agus Sulaeman di Jakarta, Sabtu, 14 November 2020.

Sejak konstruksi Tol Becakayu diresmikan pada 3 November 2017, kata Agus, keberadaan lahan di kolong jalan tol kerap disalahgunakan oknum pengendara maupun pengusaha sebagai tempat parkiran liar.

Lahan bantaran Kalimalang yang menjadi aset PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM) itu dijadikan pool angkutan umum hingga garasi ilegal bagi mobil warga di wilayah setempat yang rumahnya tidak memiliki lahan parkir.

“Rata-rata adalah kendaraan pribadi warga yang tidak punya parkiran di rumahnya. Awalnya parkiran liar itu muncul saat banjir dan mereka butuh lahan buat evakuasi kendaraan, tapi ke sini-sininya jadi parkiran tetap,” katanya.

Baca juga : Ada Taman Lintasan Sepeda di Kolong Tol Becakayu Cipinang

Deretan kendaraan yang parkir secara liar, kata Agus, telah menimbulkan kesan pungutan liar.

“Kita mau ubah konsep itu. Kita gunakan untuk sarana edukasi masyarakat, yang secara konsep tergantung pada masukan warga,” katanya.

Sejumlah ruang publik yang telah diterapkan di antaranya berupa perkebunan di wilayah RW01 yang digarap melalui kerja sama Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ketua RW, petugas Penanaganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dan warga.

Kebun tersebut ditanami 15 macam jenis tanaman seperti kol, cabe, timun suri, kacang panjang, singkong, jagung, cabe merah, cabe hijau, cabe rawit, kangkung, terong dan lainnya.

“Warga yang melintas di jalan diperkenankan untuk mengambil,” tutur Agus.

Selain itu kolong tol di RW03 telah difungsikan sebagai lintasan sepeda seluas 200 meter.

Agus mengatakan lintasan sepeda tersebut berjenis ‘pump track‘ pertama di wilayah Jabodetabek yang memanfaatkan lahan fasos/fasum kota.

“Konsultan sekaligus pelaksana proyek dipegang oleh Rombangan Anak Mangkok (ROAM) Universitas Indonesia (UI),” katanya.

Agus menambahkan masih terdapat tiga area kolong tol lainnya yang saat ini masih menunggu masukan warga seputar pemanfaatannya.

ANTARA