Corona Melandai, Warga Selandia Baru Loncat Bungee Jumping

Orang-orang menunggu untuk mengambil makanan siap saji di restoran McDonald's setelah pemerintah melonggarkan lockdown yang diterapkan untuk mengekang penyebaran virus corona (COVID-19) di Auckland, Selandia Baru, 28 April 2020. Selandia Baru melonggarkan lockdown setelah berhasil mengendalikan wabah tersebut. REUTERS/Ruth McDowall

Sydney – Warga Selandia Baru mulai perlahan menikmati kehidupan di luar rumah pada pekan ini setelah pemerintah melonggarkan larangan kegiatan sosial dan ekonomi atau lockdown terkait penanganan wabah virus Corona.

Pria Selandia Baru bernama Jim Boult mengaku menggunakan momen berharga ini untuk berolah raga bungee jumping.

Boult melompat dari sebuah jembatan terkenal bernama Kawarau Bridge di Queenstown, South Island, yang merupakan kota pariwisata.

“Rasa lega untuk kembali ke kehidupan normal tersebar di sepanjang negeri saat menyaksikan Boult loncat dari jembatan dengan bungee jumping,” begitu dilansir Reuters pada Kamis, 14 Mei 2020.

Di Ibu Kota Auckland, penduduk berbaris menunggu antrean di tengah malam untuk menikmati cukur rambut dan perawatan salon di sebuah salon profesional.

Ini terjadi setelah mereka dilarang berkegiatan di luar rumah karena ada aturan jaga jarak atau social distancing.

Sebagian warga terlihat berjalan-jalan di depan air mancur di Wellington.

Sedangkan sebagian warga lainnya menunggu toko buka dengan menjaga jarak aman atau social distancing.

“Pelanggan sudah memesan penuh hingga dua pekan ke depan,” kata Ali Kamaruddin, seorang pemilik tempat cukur di Tauranga, kepada stasiun televisi TVNZ.

Peraturan pemerintah soal social distancing dan karantina di rumah berdampak langsung pada ekonomi Selandia Baru.

Selama ini, negeri Kiwi ini dikenal sangat mengandalkan pariwisata untuk menjadi pemasukan utama dengan nilai ekonomi secara total mencapai sekitar US$200 miliar atau sekitar Rp3.000 triliun.

Selandia Baru mencatat ada 1.497 kasus infeksi virus Corona atau Covid-19 dengan sekitar 90 orang masih sakit. Sebanyak 21 orang meninggal dunia. Hingga hari ketiga berturut-turut, belum ada kasus infeksi baru.