Fakta-fakta Demo Omnibus Law 20 Oktober: Hampir Rusuh Hingga Massa Misterius

Elemen gabungan mahasiswa melakukan aksi demo di sekitar kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Selasa 20 Oktober 2020. Mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa menolak Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) pada 20, 21 dan 22 Oktober 2020. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan setahun dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin. Jokowi dan Ma'ruf Amin dilantik sebagai presiden dan wapres periode 2019-2024 di Gedung MPR. Selain itu, pada tanggal yang sama pula Jokowi mengungkapkan keinginannya untuk menerbitkan omnibus law UU Ciptaker. TEMPO/Subekti.

, Jakarta -DemonUU Cipta Kerjastrasi menolak  atau Omnibus Law kembali digelar pada Selasa, 20 Oktober 2020. Demo yang digelar bertepatan dengan 1 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin alias setahun Jokowi – Ma’ruf ini diikuti oleh ribuan mahasiswa dan buruh.

Berbeda dengan demonstrasi yang digelar pada 10 Oktober 2020 yang berakhir ricuh, demo hari ini berakhir dengan tertib. Namun, menjelang sore, sempat ada massa yang tidak teridentifikasi mulai berdatangan. Berikut adalah 5 peristiwa dalam demo Omnibus 20 Oktober.

  1. Blokade di Pinggir Ibu Kota

Polres Bekasi Kota menurunkan 803 personel untuk mencegah massa yang akan melakukan unjuk rasa ke Istana Negara. “Titik penyekatan di universitas di wilayah Bekasi Kota,” kata Humas Polres Metro Bekasi Kota, Komisaris Erna Ruswing, Selasa, 20 Oktober 2020. Erna mengatakan pihaknya sudah memberikan imbauan agar masyarakat tidak ikut demo di masa pandemi.

Sementara di Depok, 600 polisi dan TNI diturunkan. “Massa diperiksa dan jika memungkinkan diputar balik,” kata Kapolres Depok, Komisaris Besar Azis Adriansyah.

  1. Demo Dimulai

Meski dihalangi di perbatasan, ratusan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia atau BEM SI mulai berdatangan ke Kawasan Patung Arjuna Wijaya, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat pukul 12.00 WIB. Pendemo terhenti di Kawasan itu, karena polisi menutup akses ke Istana Negara.

  1. Massa Buruh

Massa buruh dari Gerakan Serikat Buruh Indonesia mendatangi Kawasan Patung Arjuna Wijaya pada pukul 14.30 WIB. Meski berada di tempat yang sama, massa buruh tak bergabung dengan mahasiswa. BEM SI berada di sekitar silang Monas, sedangkan GSBI di depan kantor Indosat. Mereka melakukan orasi sendiri-sendiri dengan tuntutan serupa yaitu cabut UU Cipta Kerja.

  1. Massa Misterius

Sejumlah orang tanpa bendera dan spanduk organisasi tiba-tiba merangsek masuk ke barisan massa dari BEM SI pada pukul 15.00. Mereka membakar ban. Merespon kedatangan massa tak dikenal, BEM SI merapatkan barisan. “Hati-hati, kita tidak ingin ada penyusup masuk barisan,” kata seorang mahasiswa dari mobil komando. Demonstran dari kalangan mahasiswa dan buruh membubarkan diri sekitar pukul 16.30.

Pada pukul 16.35, tiga orang remaja berkaos tanpa alas kaki menaiki Patung Arjuna Wijaya. Pukul 17.07, massa yang bukan lagi dari kalangan mahasiswa melempari polisi dengan petasan. Pukul 17.40, sejumlah massa membakar ban di dua titik di Jlaan MH. Thamrin.

  1. Massa Sisa

Sejumlah orang yang tidak teridentifikasi asal kelompoknya masih berkumpul di Kawasan Patung Arjuna Wijaya menjelang magrib.

Saat diminta membubarkan diri, mereka meminta air dan rokok ke personel TNI dan Polisi. Polisi dan TNI memberikan mereka air, tapi tidak rokok. Sebelum benar-benar membubarkan diri, massa yang berpakaian serba hitam tersebut meminta awak media mundur dari lokasi.

Baca juga : 3 Pemuda Provokasi Pelajar Pemicu Rusuh Demo Omnibus Law Terancam 10 Tahun Bui

YUSUF MANURUNG | ADI WARSONO | ADE WAHYUDIN