Gunung Merapi Siaga, Ambulans Disiapkan dan Penambangan Pasir Berhenti

Warga beraktivitas di lahan pertanian lereng Gunung Merapi yang kini berstatus Siaga, di Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat, 6 Novemebr 2020. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Yogyakarta – Naiknya status Gunung Merapi menjadi siaga telah menjadi perhatian utama Pemerintah DI Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Sejak status Merapi berubah dari waspada menjadi siaga per Kamis siang, 5 November 2020, Pemerintah Kabupaten Sleman esok harinya menetapkan status tanggap darurat bencana untuk Gunung Merapi.

Penetapan status tanggap darurat itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 76/Kep.KDH/A/2020 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gunung Merapi yang diteken Bupati Sleman Sri Purnomo.  

Bersamaan dengan status tanggap darurat untuk Merapi itu, sejumlah kebijakan dikeluarkan pemerintah untuk mengantisipasi keselamatan warga jika sewaktu-waktu Merapi erupsi. Salah satunya menghentikan sementara semua aktivitas penambangan pasir di sungai sungai yang berhulu Merapi.

“Aktivitas penambangan pasir harus berhenti, harus diamankan dulu untuk menjaga kondisi jalur evakuasi,” ujar Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Jumat, 6 November 2020.

Sultan menuturkan berbagai truk pasir sementara dilarang masuk atau berhenti di jalur-jalur yang berjarak kurang dari radius lima kilometer Merapi itu.

Sultan khawatir jika truk pasir masih lalu lalang apalagi melalui jalur-jalur evakuasi itu maka berpotensi merusak jalan utama yang akan dipakai warga menyelamatkan diri saat Merapi erupsi.

“Jalur evakuasi tidak boleh dilewati truk pasir. Nanti kalau jalur itu rusak kecepatan (kendaraan yang akan mengevakuasi warga) tidak bisa sampai 80 km/jam saat harus turun,” ujar Sultan.

Pemerintah Kabupaten Sleman sendiri telah menyiapkan jalur-jalur evakuasi jika sewaktu waktu erupsi terjadi, seperti jalur evakuasi yang melewati jalur Klangon-Pasar Butuh. Sedangkan jalur evakuasi di lingkup Dusun Kalitengah Lor yang kini wilayahnya sudah dikosongkan juga telah diperbaiki melalui pengerjaan tambal sulam pada Jumat.

Bupati Sleman Sri Purnomo dalam apel kesiapsiagaan bencana khususnya erupsi Merapi pada Jumat menuturkan naiknya status Merapi dari waspada menjadi siaga membuat semua pihak bersiap untuk mengantisipasi berbagai dampak terburuk.

“Dengan persiapan yang matang, andaikata terjadi bencana kita bisa meminimalisir terjadinya kerugian maupun korban,” ujar Sri Purnomo.

Dengan penetapan status tanggap darurat bencana Merapi itu, Sleman pun telah menyiagakan sedikitnya 36 unit ambulans dari total 70 ambulans anggota Sleman Emergency Service.

Selain itu dengan sudah ditekennya status tanggap darurat bencana Merapi, maka anggaran tak terduga juga sudah siap untuk digunakan. Pemda Sleman telah menyiapkan dana untuk penanganan darurat Merapi sebesar lebih dari Rp 30 miliar yang diambil dari dana tak terduga.

Adapun dari tiga titik lokasi yang masuk prakiraan bahaya terdampak erupsi seperti Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor), Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem) dan Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari) di Kecamatan Cangkringan Sleman saat ini kondisinya juga sudah steril dari aktivitas.

Pemerintah Sleman mencatat dari 536 jiwa penduduk di Dusun Kalitengah Lor, prioritas pengungsian terutama pada kelompok rentan sebanyak 181 jiwa sudah selesai dilakukan. Sedangkan di Dusun Kaliadem kondisinya memang sudah lama tak dihuni selain hanya rumah nonpermanen untuk ternak. Sementara di Dusun Pelem Sari juga sudah kosong dari penduduk.

PRIBADI WICAKSONO