Kecemasan Sosial Dapat Pengaruhi Kesehatan Fisik dan Psikosomatik

Ilustrasi wanita pekerja yang stress. shutterstock.com

, Jakarta – Kecemasan sosial adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas dan takut ketika harus bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain atau dikenal dengan istilah demam panggung. Menurut ahli psikosomatis RS OMNI Hospital Alam Sutera Andri, gejala kecemasan sosial ditandai dengan timbulnya benjolan di tenggorokan, berkeringat, gemetar, jantung kerap berdebar kencang, ketegangan otot, nyeri, mual, atau pusing. Ada juga perasaan ingin melarikan diri, dirundung perasaan bersalah, dan selalu ingin menghindar ketika harus tampil di depan umum atau ketika harus menjadi pusat perhatian. Pengidap kecemasan sosial juga kerap menghindari orang-orang yang mereka anggap punya kedudukan lebih tinggi dari dirinya meskipun orang tersebut masih keluarga, seperti paman atau bibinya.

“Kecemasan yang intens secara terus menerus dari penderita kecemasan sosial dapat mempengaruhi kesehatan fisik atau dikenal dengan istilah psikosomatik, yaitu keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukan oleh alasan fisik, seperti luka atau infeksi,” kata Dr Andri dalam acara bertema ‘Social Anxiety, How to Cope With it?’ sekaligus perayaan ulang tahun pertama Super You by Sequis Online, kanal asuransi digital Sequis pada 6 November 2020.

Andri menyarankan beberapa tips untuk mengatur rasa cemas, seperti mencoba membiasakan diri untuk menghadiri meeting tepat waktu sehingga dapat melihat satu per satu audience yang datang, ‘membekali’ diri dengan update mengenai situasi atau pemberitaan terkini sehingga memiliki topik untuk menjadi bahan diskusi dengan orang lain, menghindari minuman beralkohol, mengonsumsi makanan sehat, dan rajin berolahraga.

Gangguan kecemasan juga dapat disebabkan oleh media sosial, terutama saat pandemi covid-19. Dimas Alwin yang banyak membahas isu kesehatan mental dan sosial media menjelaskan bahwa perubahan sosial secara mendadak, cepat, dan terus menerus, kerap terjadi selama masa pandemi covid-19. Ini bisa menimbulkan rasa cemas dan panik. Contohnya, terhentinya aktivitas sehari-hari, terpaksa berpisah dari keluarga dalam kurun waktu berbulan-bulan bila bekerja di luar kota, terganggunya operasional bisnis, dan pengurangan karyawan di berbagai sektor yang berimbas pada finansial keluarga.

Media sosial juga dapat menjadi salah satu pemicu kecemasan karena melihat dan membaca informasi yang tidak benar. Awalnya ingin menghibur diri saat banyak waktu harus dihabiskan di rumah. Tetapi, alih-alih terhibur, mereka yang tadinya sudah cemas jadi semakin takut beraktivitas dan mengambil keputusan karena terpengaruh informasi dari media sosial. “Informasi soal Covid-19 sering disajikan dengan cara kurang tepat atau bertujuan menakut-nakuti dan content-nya tidak diverifikasi terlebih dahulu sehingga membingungkan pembaca. Kita tahu bahwa virus ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan, menurunnya kualitas hidup, dan menyebabkan kematian sehingga informasi yang disajikan haruslah bersifat edukatif agar pembaca memiliki pemahaman yang benar dan mematuhi protokol kesehatan bukan sebaliknya menjadi khawatir,” kata Dimas. Ia menyarankan pengguna media sosial dapat lebih bijak berselancar di internet dan sebaiknya lebih banyak berinteraksi secara nyata dengan orang di sekitarnya.

Talkshow bertajuk ‘Social Anxiety, How to Cope With it?’ oleh Super You by Sequis Online/Sequis

Terganggunya kesehatan dapat menimbulkan kecemasan baru, yaitu jika harus mendapatkan perawatan medis maka harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak kecil dan bisa jadi menggerus finansial keluarga. Bagi mereka yang telah memiliki asuransi, rasa cemas pada jumlah tagihan rumah sakit masih bisa dikendalikan sebab biayanya akan ditanggung oleh perusahaan asuransi dengan nilai pertanggungan sesuai yang tercantum pada polis. Dengan demikian, pasien dapat berfokus pada proses penyembuhan, sementara tabungan dan aset yang dimiliki keluarga tetap terjaga. Termasuk jika terjadi kematian hingga sumber pemasukan keluarga hilang, ada sejumlah uang pertanggungan (UP) dari perusahaan asuransi yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga agar mampu memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya.

Masalah kesehatan mental sedang menjadi isu hangat di masyarakat, terutama pada generasi milenial. Beberapa orang mungkin ada yang mengalami kecemasan sosial di masa pandemi. “Untuk itu, kami ingin berbagi pengetahuan agar para milenial mengetahui cara terbaik untuk merespon kecemasan sosial dan tidak meremehkannya karena dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan. Kami pun mengimbau para milenial untuk peduli hidup sehat sebab jika kesehatan terganggu, dampaknya semakin meluas termasuk terganggunya finansial,” kata Head of Digital Channel Sequis Evan Tanotogono.