Kisah Full Time Trader: Pernah Rugi 85 Persen hingga Dikira Koruptor

Jakarta – Seorang pemain saham atau full time trader muda, Bekti Sutikna, bercerita tentang pengalamannya berselancar di pasar modal hingga memecahkan rekor transaksi terbanyak mencapai Rp 2,4 triliun dalam waktu satu bulan. Kisah itu ia bagikan dalam wawancara dengan Staf Ahli Pengawasan Pajak Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti, melalui tayangan YouTube Frans Membahas.

“Saya mulai trading saat kuliah semester II,” ujar Bekti memulai ceritanya di video yang diunggah pada Selasa, 1 Juni 2021.

Frans telah mengizinkan Tempo mengutip wawancaranya dengan Bekti. Dalam wawancara itu, Bekti menyebut bahwa ia mulanya bermain saham pada 2008 atau 13 tahun lalu dengan modal senilai Rp 15 juta. Saat pertama kali terjun di dunia pasar modal, Bekti langsung merugi karena portofolionya amblas 85 persen.

Saat itu, kata Bekti, Indonesia dan beberapa negara di dunia sedang mengalami krisis keuangan sehingga kondisi pasar tak stabil. Namun, ia tak langsung patah arang atau menjual sahamnya.

Sebagai mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis di suatu universitas, Bekti justru semakin memperdalam topik pasar modal untuk memperkuat basis teorinya. Konsentrasi ke bidang pasar modal itu atas rekomendasi dosennya.

Setelah lulus kuliah, Bekti lebih dulu bekerja di sekuritas. Dia baru mulai serius menjadi full time trader pada 2016. “Sempat saya ikut seminar saham, belajar buku. Teori banyak ditemukan di sana. Saya pun tidak ada mentor, jadi saya autodidak,” kata Bekti.

Selama menjadi full time trader, Bekti menghabiskan waktu hampir setiap hari untuk memantau pergerakan saham. Ia mengibaratkan pekerjaannya saat ini seperti orang yang membuka lapak di pasar. Pada waktu pembukaan perdagangan, ia melakukan transaksi beli. Sedangkan saat penutupan, Bekti melakukan aksi jual.

Selama menjadi full time trader, ia mengaku sempat merugi, apalagi bila kondisi IHSG amblas. Jumlah kerugian paling banyak itu mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Kerugian bisa lebih besar kalau Bekti tidak langsung menjual sahamnya.

“Saya pernah mengalami menginapkan saham ketika market sore hari tutup, lalu ada sentimen dari bursa luar negeri buruk, sentimen turun, berita negatif muncul, paginya pas open langsung rontok. Jadi saya pilih untuk beli pagi dan langsung jual sore,” ujarnya

Sebagai full time trader, Bekti pun menyebut ia jarang berinteraksi dengan lingkungan luar. Pekerjaannya mengharuskan di berada di depan monitor.

Bahkan, karena tak bekerja di kantor seperti karyawan pada umumnya, ia pernah dicurigai sebagai koruptor oleh saudaranya. “Bude saya sempat bilang, hati-hati lho kalau rumah kamu disita. Saya dikira koruptor,” katanya.

Baca Juga: Platform Trading Larang Perdagangan Terhadap Saham GameStop