Komnas HAM: Ada Upaya Pengaburan Fakta dalam Kasus Terbunuhnya Pendeta Yeremia

Komisioner Komnas HAM (Kiri ke Kanan) Amiruddin, Beka Ulung Hapsara, Wakil Ketua Komnas HAM Hairansyah, dan Komisioner Choirul Anam, saat konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Jumat, 27 September 2019. Tempo/Egi Adyatama

, Jakarta-Ketua Tim Investigasi Komnas HAM terkait kematian Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, Choirul Anam, mengatakan ada upaya pengaburan fakta kejadian dalam peristiwa tersebut. Hal ini ia ungkapkan saat mengumumkan hasil investigasi Komnas HAM.

“Terdapat upaya mengalihkan/mengaburkan fakta-fakta peristiwa  penembakan di TKP berupa sudut dan arah tembakan yang tidak beraturan yang dibuktikan dengan banyak titik lubang tembakan dengan diameter yang beragam, baik dari luar TKP (sekitar pohon), di bagian luar dan dalam serta bagian atap/seng kandang babi,” kata Anam dalam konferensi pers, Senin, 2 November 2020.

Menurutnya, dari temuan Komnas HAM di lapangan, setidaknya terdapat 19 titik lubang dari 14 titik tembak pada bagian luar dan dalam kandang babi, maupun pada atap kandang dan luka pada pohon akibat tembakan.

Berdasarkan penghitungan jarak tembak dengan posisi lubang peluru, kata Anam, diperkirakan jarak tembak berkisar 9 – 10 meter yang berasal dari luar kandang dan diarahkan ke TKP maupun sekitar TKP.

“Arah dan sudutnya pun tampak tidak beraturan/acak. Komnas HAM menduga kuat adanya unsur kesengajaan dalam membuat arah tembakan yang acak/tidak beraturan dan tidak mengarah pada sasaran, tetapi untuk mengaburkan fakta peristiwa penembakan yang sebenarnya,” kata dia.

Anam berujar di TKP ditemukan bekas-bekas tembakan di dinding gubuk tempat Pendeta Yeremia ditemukan dan proyektil peluru. Terdapat pula barang bukti berupa pengambilan proyektil peluru dari lubang kayu balok di TKP yang tidak diketahui keberadaannya saat ini.

“Selain itu terdapat upaya agar korban segera dikuburkan tidak lama setelah kejadian juga sebagai upaya untuk tidak dilakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban untuk menemukan penyebab kematian,” kata Anam.

Anam menuturkan Komnas HAM menduga pelaku merupakan anggota TNI dari Koramil Persiapan Hitadipa. Diduga bahwa pelaku adalah Alpius, Wakil Danramil Hitadipa. Dugaan mengerucut karena Alpius diketahui sempat mencari Pendeta Yeremia dan kemudian terlihat menghampiri kandang babi.