Menhub Apresiasi Jepang atas Kerja Sama Pembangunan MRT dan Pelabuhan Patimban

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengecek kesiapan pembukaan tahap awal Pelabuhan Patimban di Subang, Sabtu 31 Oktober 2020. Istimewa

, Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Jepang atas kerja sama dalam dua proyek besar pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia yaitu Mass Rapid Transit (MRT) dan Pelabuhan Patimban.

Menhub juga menyampaikan harapannya agar pembangunan kereta semi cepat Jakarta-Surabaya dapat dikerjasamakan dengan pemerintah Jepang hingga selesai. Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat mengikuti rangkaian acara 18th ASEAN & Japan Transport Minister Meeting secara virtual di Jakarta, Rabu, 25 November 2020.

“Proyek Mass Rapid Transit (MRT), Pelabuhan Patimban, dan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya menjadi komitmen Jepang dalam menanamkan investasinya di Republik Indonesia,” ungkap Budi Karya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Pelabuhan Patimban akan beroperasi akhir 2020 dengan kerja sama pengelolaan terminal pusat ekspor-impor kendaraan atau produk otomotif (car terminal).

Sementara itu, terkait MRT tahap kedua masih dalam tahap finalisasi desain dan akan akan dibangun pada tahun 2022.

Sedangkan terkait proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya, pembangunannya dimulai pada 2022 dan ditargetkan selesai 2026 atau lebih cepat.

Perkiraan nilai investasi proyek prioritas tersebut adalah Pelabuhan Patimban kurang lebih Rp 30 triliun, proyek MRT fase kedua Rp 15 triliun, dan fase ketiga sekitar Rp 30 triliun. Sedangkan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya dibutuhkan anggaran Rp 80 triliun.

Sementara itu, Menteri Negara Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang Iwai Shigeki selaku Ketua Delegasi Pemerintah Jepang mengatakan, pihak Jepang menginginkan kerja sama yang sudah terjalin baik antara Jepang dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia dapat terus berlanjut.

“Saya berharap Jepang dapat menjadi mitra sejati ASEAN untuk membantu menyelesaikan masalah di sektor transportasi di kawasan ASEAN dan membahas bersama upaya pemulihan sektor transportasi di masa pandemi Covid-19 dengan memanfaatkan pengalaman yang kami miliki,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Budi Karya juga menekankan bahwa Indonesia memperhatikan pentingnya keselamatan pelayaran seperti keselamatan kapal – kapal yang menghubungkan konektivitas antar pulau di Indonesia.

“Saya percaya keselamatan pelayaran kapal tersebut tidak hanya untuk kepentingan perairan wilayah Indonesia tetapi juga perairan regional,” ujar Menhub.

Dia juga menyampaikan bahwa kondisi pandemi Covid-19 di seluruh dunia memerlukan kerja sama negara-negara ASEAN dan Jepang terutama pada transportasi udara. Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan penumpang angkutan udara serta mendukung pariwisata dan memulihkan industri penerbangan.

“Hal ini juga penting untuk meningkatkan pemulihan ekonomi global,” kata Budi Karya.

Dalam pertemuan ASEAN dan Japan Transport Meeting ini membahas kerja sama di dalamnya yaitu pengajuan ASEAN Japan Transport Workplan tahun 2020-2021 dan kerjasama baru yang mencakup pengembangan kapasitas /evaluasi terminal kontainer di wilayah ASEAN, pengembangan keselamatan transportasi laut untuk kapal-kapal kecil di perairan ASEAN, dan ASEAN-Japan Action Plan on Environment Improvement Transport Sector 2021-2025.

Selain itu, pertemuan ini menyampaikan beberapa proyek eksisting seperti laporan akhir tentang strategi promosi kapal cruise di bawah ASEAN-Jepang, pedoman tentang pemeliharaan saluran pelayaran di ASEAN, pedoman keselamatan rute pelayaran di negara-negara ASEAN, dan laporan perjanjian penerbangan regional ASEAN-Jepang.

Pertemuan ini dihadiri oleh para Menteri Transportasi dari negara mitra ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

ANTARA