Riset Setara Institute: 24 Rumah Ibadah Alami Gangguan Sepanjang 2020

 Jakarta – Laporan riset ke-14 Setara Institute menunjukkan sebanyak 24 rumah ibadah mengalami gangguan sepanjang tahun 2020. 

Secara rinci, sebanyak 14 masjid mengalami gangguan, 7 gereja, 1 pura, 1 wihara, dan 1 klenteng. Riset tersebut mengungkapkan umat Islam menjadi pihak yang paling banyak mengalami gangguan terkait rumah ibadah. 

“Namun perlu dicatat bahwa yang paling banyak mendapatkan gangguan adalah tempat ibadah umat Islam dari mazhab atau golongan yang oleh kelompok pelaku dianggap berbeda dari mainstream,” kata Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan dalam keterangannya, Selasa, 6 April 2021.

Baca juga: Hari HAM Sedunia, Jokowi Minta Selesaikan Kasus Kebebasan Beribadah

Halili mengatakan kasus-kasus terkait rumah ibadah, di antaranya penghentian pembangunan, penyegelan, dan perusakan. Kasus tersebut sebagian besar disebabkan oleh produk kebijakan yang diskriminatif, intoleransi masyarakat sekitar, dan konflik internal kepengurusan rumah ibadah.

Riset juga mencatat sepanjang 2020 terjadi 180 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB), dengan 422 tindakan. Pada tahun 2019, terdapat 200 peristiwa pelanggaran KBB, dengan 327 pelanggaran.

Dari 422 tindakan yang terjadi pada 2020, sebanyak 238 di antaranya dilakukan oleh aktor negara. Sementara 184 di antaranya dilakukan oleh aktor non-negara. “Hal itu menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan tindakan pelanggaran oleh aktor negara tahun lalu berlanjut,” katanya.

Menurut Setara Institute, konfigurasi aktor negara dan aktor non negara pelaku pelanggaran KBB tidak banyak berubah. Pada kategori aktor negara, pemerintah daerah dan kepolisian menjadi pelaku pelanggaran tertinggi dengan masing-masing 42 tindakan. Sedangkan aktor non negara tertinggi adalah kelompok warga (dengan 67 tindakan) dan ormas keagamaan (dengan 42 tindakan). 

FRISKI RIANA