Vaksin Pfizer Diborong AS, Ini Kendalanya Jika Negara Berkembang Ikut Beli

Merger Pfizer-Allergan Senilai Rp 2.192 Triliun Batal

JakartaPerkembangan uji klinis tahap ketiga kandidat vaksin Covid-19 buatan BioNTech dan Pfizer Inc mendapat sambutan hangat di sejumlah negara. Pemerintah Selandia Baru akan membeli 1,5 juta dosis vaksin tersebut dengan pengiriman paling cepat pada kuartal pertama 2021. Sedangkan Amerika Serikat memiliki kontrak senilai US$ 1,95 miliar untuk 100 juta dosis vaksin, yang akan didistribusikan akhir tahun ini. 

Namun lain halnya dengan negara berkembang di Asia. Ketua Gugus Tugas Sains dan Teknologi Pakistan Atta Ur Rahman menyatakan vaksin ini tidak cocok untuk digunakan di negara berkembang. “Infrastruktur rantai dingin untuk membawa vaksin dari bandara ke seluruh wilayah tidak ada di negara berkembang,” kata dia, seperti dikutip VOA News, Rabu 11 November 2020.

Pakistan, kata Atta, akan kesulitan mendistribusikannya karena rata-rata suhu musim panas di sejumlah daerah mencapai 40-50 derajat Celsius.

Sekretaris Kesehatan Filipina Francisco Duque menyatakan negaranya tak memiliki fasilitas penyimpanan ultra-dingin untuk vaksin tersebut. “Teknologi yang digunakan Pfizer juga masih baru. Kami tidak berpengalaman, jadi risikonya bisa tinggi,” katanya. Meski begitu, pemerintah Filipina masih menunggu perkembangan lanjutan dari vaksin ini.

BioNTech dan Pfizer melaporkan bahwa kemanjuran vaksin mereka mencapai lebih dari 90 persen pada masa awal uji coba tahap ketiga. Sebanyak 43.500 relawan yang menerima vaksin mengalami efek samping, seperti sakit kepala, demam, dan nyeri otot, layaknya imunisasi pada umumnya, tapi tidak membahayakan.  

Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan vaksin Pfizer menjadi salah satu yang paling menjanjikan untuk diproduksi massal.

12
Selanjutnya